oleh

Orang Pinggiran Jadi Tamu Allah

-Opini-2.002 views

Faisal Ismail

Guru Besar Pascasarjana Fakultas Ilmu Agama Islam

Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

ISTILAh “orang ping­gir­an” digunakan un­­tuk menyebut orang yang secara ekonomi berpenghasilan pas-pasan. Orang pinggiran ini be­kerja keras dan sedikit demi sedikit menabung agar bisa naik haji.

Perintah Allah yang me­wa­jibkan umat Islam naik haji an­tara lain terdapat dalam Alquran Surah Ali Imran ayat 97: “Me­ngerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu me­la­ku­kan perjalanan ke Bai­tul­lah…” Kemampuan ini me­n­ca­kup kemampuan mental dan fisikal (sehat) dan ke­mam­puan ke­uangan (mempunyai dana). Bagi orang kaya, ongkos naik haji mudah tersedia. Bagi orang pinggiran, ongkos naik haji ti­dak mudah dan harus me­na­bung selama belasan dan pu­luh­an tahun. Termotivasi oleh iman yang kuat, banyak orang ping­giran pada akhirnya bisa berhaji dengan hasil tabungan mereka.

Tukang Pijat Naik Haji 

Bekerja sebagai tukang pi­jat, Sofyan berhasil naik haji pada 2015 setelah menabung se­lama 16 tahun. Kakek 82 ta­hun ini adalah warga Desa Ba­long­be­suk, Kecamatan Diwek, Ka­bupaten Jombang, Jawa Ti­mur. Se­tiap harinya, ia me­na­bung Rp5.000 dan kadang Rp10.000. Begitu pun halnya dengan Yani Zimah, 65, yang bekerja sebagai tukang pijat bayi. Yani naik haji dengan hasil tabungannya se­la­ma tujuh ta­hun. Ia adalah warga Kampung Karanganyar, Ke­lu­rah­an Bron­to­kusuman, Keca­mat­an Mer­ga­ngsang, Kota Yog­ya­karta.  Ka­rena suaminya, Kho­lid Mo­ris, meninggal pada 2011, ia mendaftar sendiri sebagai cal­haj pada 5 Januari 2011 dan be­rangkat haji pada 2017 seorang diri tanpa didampingi keluarga.

Sebagai tukang pijat bayi, Yani tidak memasang tarif ke­pada para pelanggannya. Ibu lima anak dan dua belas cucu ini me­nu­turkan, uang hasil jerih payahnya sedikit demi sedikit ditabung. Mengamalkan pesan kakeknya, Yani rutin membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak 2000 kali setiap hari dan banyak me­lak­sanakan salat hajat dan ta­hajud.  Yani menuturkan peng­ha­sil­annya per hari rata-rata Rp 200.000. Dengan uang Rp11.125.000, ia mendaftar sebagai calhaj dan akhirnya membayar lunas se­be­sar Rp35,7 juta.

Tukang pijat lainnya yang ber­hasil naik haji adalah Sa­ba­ru­din. Ia bersama istrinya, Um­pi­kah, tinggal di Jalan Ukel, Ker­tosari, Ponorogo, Jawa Ti­mur. Sudah dua kali (2003 dan 2017) Sabarudin naik haji. Pada haji yang kedua, ia mendaftar pada 2010 dan berangkat ber­sama is­trinya. Sabarudin me­nu­turkan, setiap pelanggannya memberi uang jasa Rp20.000-50.000. Is­trinya membuka warung kecil un­tuk menambah pendapatan ke­luarga. Setelah menabung se­lama bertahun-tahun, Saba­ru­din bersama is­tri­nya meraih im­piannya be­rangkat naik haji.

Bekerja sebagai tukang ser­vis sepeda dan penambal ban, Ib­roni sangat merindukan Tanah Suci. Setelah menabung selama 24 tahun, ia pun berhasil naik haji. Ia adalah warga Sumber La­wang, Sragen, Jawa Tengah. Pekerjaan yang ia geluti sejak 1993 itu pada akhirnya bisa mewujudkan impiannya me­nu­nai­kan ibadah haji. Dari peng­ha­sil­an setiap hari yang tidak pasti, Ib­roni selalu menyisihkan un­tuk ditabung agar bisa berhaji. Ibroni mendaftar sebagai calhaj dan kemudian berangkat pada 20 Agustus 2017. Ibroni sangat senang karena bisa naik haji dari hasil kucuran keringatnya sen­diri yang halal. Dengan me­nu­naikan ibadah haji, ia ber­ko­mit­men semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Naik haji dengan hasil ku­curan keringat dan jerih payah sendiri dialami juga Rusman Ali (39) yang berprofesi sebagai pe­nambal ban. Ia tinggal di Me­dayu Senduru, Kabupaten Lu­ma­­jang, Jawa Timur, dan be­rang­kat haji pada 2017. Dia me­nuturkan, upaya menunaikan ibadah haji bersama istrinya dimulai sejak 2004. Alham­du­lillah, kata dia, setiap harinya dapat mengumpulkan uang rata-rata Rp50.000. Walaupun pendapatan setiap hari pas-pa­san, Rusman bertekad me­na­bung demi berangkat haji.

Se­tiap hari Rusman me­ng­amal­kan ajaran kiainya membaca Surah Yasin dan Al-Waqiah agar Allah melapangkan rezeki ba­gi­nya.  Meskipun Rusman ber­he­mat menabung agar bisa ber­haji, tapi tidak membuatnya men­jadi pe­lit. Ia berkeyakinan de­ngan ba­nyak bersedekah, Allah semakin melimpahkan rezeki-Nya. Kisah sosok inspiratif lain­nya berasal dari Ismail, warga Banjarmasin, Kalimantan se­la­tan, yang bekerja sebagai pe­nam­bal ban bisa naik haji dan menghajikan ibunya.

Kepada siapa saja yang ber­tak­wa dan bekerja keras (ter­ma­suk orang pinggiran), Allah secara surprise  memberi jalan keluar dan rezeki yang tidak disangka-sangka sebagaimana janji dan jaminan Allah dalam Alquran Surah at-Thalaq ayat 2-3: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, nis­caya Dia akan mencukupkan ke­perluannya.” Itulah kisah-kisah impresif dan inspiratif orang-orang pinggiran yang berhasil naik haji dan bersama jamaah haji di seluruh dunia menjadi tamu-tamu Allah di Tanah Suci.

Komentar