oleh

China Menolak Permintaan AS Untuk Mengikis Minyak Iran


WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) gagal membujuk Cina untuk memangkas impor minyak Iran. Ini menjadi pukulan telak bagi upaya Presiden Donald Trump untuk mengisolasi Iran setelah menarik AS dari perjanjian nuklir 2015.

Menurut pejabat AS yang mengetahui negosiasi itu, Beijing setuju untuk tidak meningkatkan pembelian minyak mentah Iran. Hal itu akan mengurangi kekhawatiran bahwa China akan bekerja untuk melemahkan upaya AS mengisolasi Iran dengan membeli lebih banyak minyak.


“Francis Fannon, asisten menteri luar negeri untuk Biro Sumber Daya Energi, baru-baru ini di China untuk membahas sanksi,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS seperti dikutip dari Bloomberg, Sabtu (4/8/2018).


Terkait hal ini, Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan China tidak segera memberikan komentar.


Tim pejabat AS telah mengunjungi Ibu Kota di seluruh dunia untuk mencoba mengurangi penjualan minyak Iran pada awal November, ketika sanksi AS akan berlaku kembali.


Pemerintah Trump berpendapat bahwa kesepakatan nuklir, yang mencabut beberapa sanksi ekonomi dengan imbalan pembatasan program nuklir Iran, adalah kesalahan fatal karena tidak mengatasi perilaku destabilisasi negara atau membatasi pengembangan rudal balistik. Pihak lain yang ikut dalam perjanjian tersebut, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, dan Rusia mengkritik langkah AS untuk keluar dari kesepakatan.


Alih-alih melunak, AS malah memperingatkan negara lain dan sekutunya akan menghadapi sanksi jika tidak bersedia mengurangi pembelian minyak Iran pada 4 November nanti.


China – pembeli minyak mentah terbesar di dunia dan pelanggan nomor satu Iran – telah mengatakan sebelumnya bahwa mereka menentang sanksi sepihak dan mengangkat impor minyak bulanan dari negara itu sebesar 26 persen pada bulan Juli. China menyumbang 35 persen ekspor Iran bulan lalu, menurut data pelacakan kapal yang disusun oleh Bloomberg.


Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang dipimpin oleh Arab Saudi, telah berjanji untuk mengisi kesenjangan pasokan di pasar setelah keluhan Trump.

Komentar